cool hit counter

PCIM Jerman Raya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Jerman Raya
.: Home > Berita > Muslim Scholar with Impact (PENNA Edisi Maret 2018)

Homepage

Muslim Scholar with Impact (PENNA Edisi Maret 2018)

Kamis, 28-03-2018
Dibaca: 125

Giessen - Di tengah menghangatnya suhu memasuki musim semi di Jerman, Kajian PENNA kali ini menghadirkan Rachmat Adhi Wibowo, Ph.D, seorang peneliti di AIT (Austrian Institute of Technology) Vienna. Bertindak sebagai moderator adalah Roni Susman, M.Eng, M.Sc dari Berlin.

 

Kajian PENNA Edisi Maret 2018, menghadirkan Rachmat Adhi Wibowo, Ph.D

 

 

Kajian ini dilatarbelakangi dengan kenyataan bahwa para cendekia Muslim dibatasi oleh kuliah,  pekerjaan, dan penelitian. Namun mereka juga dituntut untuk memanifestasikan apa-apa yang dipelajari untuk dibagikan kepada masyarakat.

 

Untuk itu, Kajian PENNA dengan topic "Muslim Scholar with Impact" membahas peran cendekiawan muslim, baik itu pelajar, mahasiswa, peneliti maupun profesor yang kebetulan tengah berkhidmad di luar negeri. Adapun peran-peran tersebut ialah peran yang berhubungan baik secara langsung dengan tidak langsung dengan dakwah dan penyebaran pesan Islam kepada komunitas setempat. Peran tersebut antara lain:

 

1. Peran "active pioneer" / peran kepeloporan

 

Kepeloporan di bidang keilmuan semisal originalitas ide dan metode, kepoloporan mengambil peluang dan tantangan serta kepeloporan untuk meningkatkan added value komunitas sosial di tempat kita berada. Keluasan pandangan cendekia muslim akan melihat kekurangan yang ada di masyarakat untuk kemudian mengadakan kegiatan untuk menanggulanginya. Nilai kepeloporan tidak boleh hilang dari diri pribadi cendekia muslim.

 

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa melakukan kegiatan di masyarakat Eropa akan sangat menantang. Namun hal itu dapat dirintis dengan melakukan kegiatan-kegiatan kecil seperti pengajian kelompok atau kepanitiaan di organisasi seperti PPI. Contoh kepeloporan ini misalnya aktifnya pelajar Indonesia muslim di Belanda dalam memperjuangkan kemerdekaan.

 

Langkah-langkah untuk menjadi pelopor, yaitu: (1) berani menggagas ide, dan (2) melaksanakan gagasan. Ini seperti semboyan di organisasi MUhammadiyah “Siapa yang memiliki ide, itu yang menjalankannya”.

 

2. Peran "good reference"/ peran keteladanan

 

Sikap, tingkah laku dan metalitas seorang muslim yang mengacu pada metanlitas Rasulullah. Tidak mudah menyerah melihat kegagalan ketika meneliti sebagai salah satu contohnya. Atau menunjukkan sikap santun dalam keseharian berhubungan dengan kemajemukan masyarakat setempat.

 

Peran ini muncul dari kepeloporan, yaitu pelopor akan menjadi pemimpin yang diikuti banyak orang. Pelopor ini akan menjadi rujukan dan panutan. Pemimpin perlu menggali keilmuwan. Kemudian menggerakkan umat demi kemaslahatan bersama.

 

3. Peran "social entrepreneurship"/ peran sumbangsih kegiatan filantropi

 

Social Enterpreneurship adalah kemampuan untuk mengubah suatu komunitas ke arah yang lebih baik. Dengan semangat fastabiqul khairat, sosok kecendekiawan seorang muslim tidaklah boleh berhenti pada dinding-dinding sekolah atau laboartorium. Peran yang diperkaya dengan keilmuan haruslah diperkaya dengan ikhtiar mengaplikasikannya ke keseharian sebisa mungkin. Aktif dalam sosial kemasyarakatan sangat diharapkan sebagai manifestasi keilmuan yang sudah didapat selama ini.

 

Seperti dicontohkan oleh PPI Korea Selatan yang memberikan kuliah bagi pekerja migran Indonesia di Korea Selatan. PPI Korsel bekerjasama dengan KBRI dan Dikti berhasil membuka Universitas Terbuka (UT) yang menginduk ke UT Indonesia. Para pengajarnya adalah mahasiswa S2 dan S3 yang sedang kuliah di Korsel dan sebagian besar muslim. Ujian semester nya dilakukan di universitas-universitas Korsel.

 

****

 

Kajian kali ini mendapat atensi yang luar biasa dari para pendengar. Mereka aktif bertanya terutama tentang bagaimana menumbuhkan kepeloporan di tengah masyarakat yang tidak Islami dan bagaimana menjaga agar tetap konsisten - (AYK).

 

Kajian lengkap dapat disimak di Channel Youtube PCI Muhammadiyah Jerman Raya.

 

Sesungguhnya  dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (Ali Imran 190-191).


Tags: PENNA, kajian online, pengajian, pelopor, muslim, filantropi, PPI, pendidikan, cendekiawan
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: kajian



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website