cool hit counter

PCIM Jerman Raya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Jerman Raya
.: Home > Berita > Islam di United Kingdom (PENNA Edisi November 2017)

Homepage

Islam di United Kingdom (PENNA Edisi November 2017)

Sabtu, 30-11-2017
Dibaca: 86

Giessen - Bukti pengaruh Islam di United Kingdom tertua berasal dari abad ke-8 M saat Raja Mercia mencetak koin dengan huruf Arab untuk meniru koin Khalifah Al-Manshur yang banyak dipakai untuk perdagangan dunia. Pada abad ke-16 M, banyak muslim dari Afrika Utara, Timur Tengah dan Asia Tengah yang tinggal di London sebagai penterjemah, diplomat, pedagang dan lain-lain. Islam terus berkembang dan sekarang menjadi agama terbesar kedua setelah Christianity, dengan populasi Muslim (tahun 2014) mencapai 3.11 juta jiwa.

 

Pengajian Online Uni Eropa (PENNA) kali ini menghadirkan Zain Maulana, kandidat doctor bidang Politics and International Studies di University of Leeds, yang juga Ketua PCI Muhammadiyah United Kingdom. Pengajian ini dimoderatori oleh Arsi Haniva Mariama dari Berlin.

 

 

Menurut Zain, sekarang ini Islam tidak menjadi hal yang asing lagi di UK. Makanan halal lebih mudah dijumpai di UK daripada di Adelaide, Australia. Bahkan ada salah satu kota, Bradford, ada sebagian masjid yang mengumandangkan azan sampai ke luar ruangan, karena banyaknya umat Islam, keturunan Pakistan, yang bermukim di kota itu. Namun begitu, banyak persoalan yang dihadapi Muslim UK, diantaranya: masalah integrasi, terorisme, dan Islamophobia.

 

Masalah integrasi merupakan masalah terbesar dan isu penting dalam masyarakat Inggris. Di dalam umat Islam sendiri, masih ada perbedaan pendapat tentang sampai sejauh mana integrasi dilakukan, baik antar lintas generasi maupun antar asal negara/budaya. Demikina juga dengan masyarakat local (Inggris) tentang sejauh mana umat Islam harus mengikuti budaya Inggris.

 

Tentang Islamophobia, Inggris masih lebih ramah dibandingkan Perancis dan Belanda. Islamophobia akan meningkat bila ada serangan terorisme. Serangan Islamophobia umumnya hanya serangan verbal, namun sulit dibuktikan apakah ini serangan rasis atau hanya kenakalan remaja.

 

Di Inggris sendiri tidak ada yang menjadikan Islamophobia sebagai komoditas politik dan menarik simpati, seperti di Perancis, Belanda, Jerman, dan USA. Hal ini karena jumlah Muslim yang banyak sehingga menjadikan Ismpohobia sebagai isu politik akan riskan. Walikota London terpilih, Shaddig Khan, yang Muslim keturunan Pakistan menjadi contoh bahwa Islam atau agama tidak menjadi komoditas politik. Jadi, secara umum politik di Inggris, bahkan di komunitas Islam sendiri, tidak menjadikan agama untuk menarik simpati.

 

Sampai saat ini masih ada sekat antar sesame Muslim berdasarkan Negara dan akar budaya Negara asal. Ini juga berkaitan dengan mahzab mayoritas yang dianut di negara asalnya.

 

Sementara itu, Muslim Indonesia sendiri lebih bisa menyatu karena seringnya beraktivitas bersama di sekitar Masjid dan pengajian. Mayoritas Muslim Indonesia adalah umumnya pelajar teruatama di kota-kota kecil. Di kota-kota besar seperti London, Muslim Indonesia lebih bervariasi mulai dari pelajar sampai mukimin sehingga memungkinkan pendirian masjid Indonesia untuk mempromosikan Islam yang ramah dan inklusif.

 

Upaya umat Islam dan PCIM UK untuk menjembatani perbedaan budaya dengan masyarakat local adalah menghapuskan persepsi negative dengan sering mengadakan kontak dan komunikasi. Jal ini sudah menjadi kegiatan rutin, hanya saja intensitasnya perlu diperbanyak. Program masjid yang bersifat eksternal (menjemput bola) yang menjembatani kontak dengan masyarakat lokal perlu diperbanyak.

 

Uraian lengkap isi pengajian PENNA Edisi Oktober dapat di simah di Channel Youtube PCI Muhammadiyah Jerman Raya (AYK).


 

 

 

 

 

 


Tags: PENNA, Islam di Inggris, Islam di UK, terorisme, Islamophobia, integrasi, pengajian online
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: PENNA



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website