cool hit counter

PCIM Jerman Raya - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Jerman Raya
.: Home > Berita > Benarkah Islam adalah Bagian dari Tradisi dan Budaya Jerman? (PENNA Edisi Oktober 2017)

Homepage

Benarkah Islam adalah Bagian dari Tradisi dan Budaya Jerman? (PENNA Edisi Oktober 2017)

Selasa, 31-10-2017
Dibaca: 274

Giessen an der Lahn - Islam semakin  berkembang di Jerman. Saat ini lebih dari 4 juta umat Islam di Jerman, dan sekitar separuhnya memiliki kewarganegaraan Jerman. Sebagian besar Muslim datang dari Turki atas tawaran pemerintah Jerman untuk bekerja membangun Jerman dan memulihkan ekonomi perang usai perang di tahun 1960-1970an. Sejak itu, Islam pun mulai berkembang dan mewarnai Jerman. Salah satu yang menjadi perdebatan adalah apakah Islam menjadi bagian dari tradisi dan identitas Jerman?

 

Untuk itu Pengajian Online PENNA kali ini menghadirkan Drs. Ibrahim Omar, MA , untuk membahas pertanyaan tersebut di atas. Beliau adalah alumni The Arabic Language Institute-Damascus University dan alumni Philosophische Fakultät-Islamwissenschaft-Universität zu Köln. Beliau pernah menjadi Dosen Bahasa Indonesia di Universität zu Köln (1997-2015) dan pegawai Kedutaan Besar Arab Emirates di Bonn (pensiun pada 2015). PENNA kali ini dipandu oleh Arsi Haniva Mariama.

 

 

Pernyataan bahwa Islam menjadi bagian dari Jerman pernah dilontarkan Presiden Jerman Christian Wulff di tahun 2010. Namun kemudian diralat oleh Presiden selanjutnya, Joachim Gauck, yang menyatakan bahwa Islam hanya menetap di Jerman. 

 

Menurut Ketua Indo Muslim Bonn (IMB) ini, perdebatan ini kembali muncul ketika Konselir Jerman, Angela Merkel, menyatakan bahwa Islam bagian dari Jerman (sesuai pendapat dari mantan presiden Wulff) sebagai reaksi dari demostrasi oleh Pegida (organisasi radikal anti-Islam) di tahun 2015. Merkel menganjurkan untuk dialog dan berintegrasi dengan baik dengan masyarakat Jerman tanpa memandang agama, ras, dan lain-lain. Kerjasama dengan Turki juga diperlukan untuk memerangi terorisme.

 

Penyataan ini mendapat tentangan dari Pegida dan AfD (partai politik sayap kanan ekstrim yang anti-Islam dan anti-imigran). Ini karena membanjirnya pengungsi yang mendesak warga local Jerman. Mereka berpendapat bahwa kebanyakan imigran datang ke Jerman ini karena alasan ekonomi, bukan karena meminta suaka politik. Pengungsi dari daerah konflik seharusnya diberi bantuan dan dilokalisasi di luar Jerman. Islam yang penuh kekerasan dianggap tidak kompatibel dengan konstitusi Jerman. Sehingga dilarang berkembang di Jerman baik melalui pintu belakang sekalipun. Dalam kampanyenya mereka menakut-nakuti dan melakukan prejudice tentang Islam. Mereka merujuk pada hal-hal yang dilakukan Islam radikal. Jadi menurut kelompok ini, seluruh muslim Jerman harus keluar Jerman. Ini jelas-jelas bertentangan dengan konstitusi Jerman yang menyatakan menjamin kebebasan beragama. Kampanye dengan menyebarkan ketakutan ini berakibat bahwa 66% masyarakat Jerman berpendapat bahwa Islam bukan bagian dari Jerman. 

 

Di sisi lain, penganut Islam radikal ini umumnya tidak berpendidikan tinggi. Mereka menafsirkan Al Quran secara harfiah dan tidak memperhatikan sebab-sebab (latar belakang) diturunkan ayat-ayat tersebut. Mereka melihat agama dari satu sudut saja dan melihat Islam secara sempit.

 

Padahal, Islam begitu luas dan universal dan menyentuh segala aspek kehidupan. Untuk itu kita tidak bisa berkata bahwa Islam bagian dari Jerman, Kita juga tidak bias berkata bahwa Islam bukan bagian dari Islam. Ini karena kita tidak bisa mengukur Islam luasnya Islam. Islam terlalu bersifat universal dan kita tidak bisa membatasi pengertian Islam.

 

Di lain pihak, berdasarkan penelitian dan jajak pendapat, semakin banyak orang Jerman yang merasa terancam dengan Islam.Umumnya mereka bukan golongan religius. Selain itu makin banyak yang masuk Islam, ini juga semakin membuat takut penduduk Jerman yang kontra-Islam. Mereka yang takut Islam sebenarnya takut pada penganut Islam yang melakukan tindakan-tindakan negatif. Untuk itu diperlukan kelompok Islam yang mengenalkan Islam dengan sebenar-benarnya sehingga bisa menurunkan tensi/ketegangan di Jerman. Dialog dan diskusi antara keduabelah pihak perlu dilakukan. Ini diperlukan untuk mengikis sentiment masyarkat Jerman terhadap hal-hal yang negatif yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal.

 

Sekarang masyarakat Jerman menyetujui pengajaran Islam dan bahasa Arab di sekolah-sekolah, bahkan sekolah Kristen di Köln, Jerman. Demikian juga dengan pembangunan masjid, asalkan sesuai dengan peraturan pendirian bangunan di Jerman. Hal tersebut tidak ditemui dua puluh tahun yang lalu di Jerman. Budaya Islam sekarang ini telah mewarnai Jerman sekarang ini, diantaranya orang Jerman tidak marah lagi jika menolak berjabat tangan. Bahkan jika melihat orang sholat di mall, orang Jerman akan maklum dan tidak mau berjalan/lewat di depan orang sholat. Masyarakat Jerman tidak asing dengan sholat, puasa, zuckerfest (Idul Fitri), dan lain-lain. Meski demikian, masih ada beberapa kota di Jerman yang masih tidak ramah dengan Islam.

 

Pengajian kali ini mendapat atensi yang luar biasa dari para pendengar Radio PPI Dunia di seluruh penjuru mata angin. Sebagian mereka aktif bertanya. Bahkan ada yang meminta rekaman siaran untuk di-upload. Bagi yang tidak sempat mendengarkan dan ingin mengetahui lengkap isi Pengajian PENNA kali ini silahkan mengunjungi Channel Youtube PCI Muhammadiyah Jerman Raya (AYK).

 


Tags: Islam, Islamophobia, integrasi Islam, PENNA, kajian online, pengajian online, budaya Islam, anti-Islam, Islam Jerman, Muslim Jerman,
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: PENNA, kajian online



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website